Sunday, June 17, 2018

Motivasi

APA MOTIVASI KITA? Bacaan: 1 Tesalonika 2:3-9 NATS: Karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita (1 Tesalonika 2:4) Saya dan istri saya mendapat pemberitahuan bahwa kami telah memenangkan hadiah 1.000 dolar dalam bentuk uang tunai atau 250 dolar dalam bentuk kupon belanja. Ketika tiba di tempat pengambilan hadiah, kami diminta untuk terlebih dulu mengikuti suatu seminar selama 90 menit. Dalam seminar itu, kami mendapat informasi bahwa kami dapat menerima paket liburan untuk 25 tahun mendatang dengan harga saat ini, yang berarti kami dapat menghemat sebesar 15.000 dolar. Tetapi untuk menikmatinya, kami diwajibkan membayar biaya keanggotaan sebesar 5.200 dolar. Kami menolak tawaran itu, tetapi kami tetap diberi beberapa kupon potongan harga, yang mungkin tak akan pernah kami gunakan. Dari pengalaman tersebut, kami bertanya-tanya mengapa kami dapat bertahan dalam seminar yang ternyata berlangsung tiga jam itu. Apa yang telah memotivasi kami? Kami memang ingin bersikap sopan, tetapi harus diakui bahwa kami pun termotivasi oleh keserakahan. Motivasi yang salah dapat juga menyelinap dalam pelayanan kita kepada Tuhan. Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika: “Sebab kamu masih ingat, Saudara-saudara; akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu” (1 Tesalonika 2:9). Paulus berhak menerima bantuan keuangan dari jemaat, tetapi ia tidak ingin dituduh memiliki motivasi yang tidak murni. Apa yang memotivasi kita? Mari kita belajar dari teladan Paulus, sambil mengingat bahwa Allah menguji hati kita --Albert Lee DUNIA MELIHAT APA YANG KITA LAKUKAN ALLAH MELIHAT MENGAPA KITA MELAKUKANNYA

Thursday, June 8, 2017

MASALAH DENGAN ORANG Bacaan: Roma 12:14-21 NATS: Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang! (Roma 12:18) Tetangga saya tampaknya jengkel terhadap saya. Kelihatannya saya telah melakukan sesuatu yang menjengkelkannya. Saat saya bertanya apakah saya telah menyinggung perasaannya, ia menanggapi dengan kasar, "Tidak!" Lalu saya berkata, "Saya tidak ingin ada perasaan tidak enak di antara kita. Jika saya telah melakukan sesuatu yang menyinggung perasaanmu, saya minta maaf." Sejak saat itu iklim di antara kami menjadi sejuk. Seseorang mengatakan, "Semakin saya memahami manusia, saya semakin mencintai anjing saya." Ya, anjing itu setia, dapat diandalkan, selalu ingin menyenangkan, cepat memaafkan, dan melupakan. Tidakkah Anda berharap bahwa manusia pun seperti itu? Tetapi kadang kala, betapa pun kerasnya kita berusaha untuk memiliki hubungan yang baik dengan seseorang, usaha itu gagal. Rasul Paulus mengacu pada situasi tersebut dalam Roma 12:18. Perhatikanlah kata-kata "kalau hal itu bergantung padamu". Ia tahu bahwa beberapa masalah dengan orang lain mungkin tidak pernah terselesaikan. Jika ada dua orang yang bertengkar, maka ada dua orang yang perlu berdamai. Jika Anda telah melakukan bagian Anda, tetapi masalah itu tidak selesai, maka ada sebuah rencana yang dapat diikuti. Jangan menyimpan amarah atau membalas dendam dengan tidak berbicara. Lakukanlah semua hal yang dapat Anda lakukan untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (ayat 21), dan izinkanlah Allah mencari penyelesaian masalahnya. Kita perlu terus mengikuti langkah-langkah di dalam Roma 12 sampai masalah-masalah kita dengan orang terselesaikan -- tetapi terutama jika tidak terselesaikan --DJD CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN MUSUH ADALAH DENGAN MENGGUNAKAN SENJATA KASIH

Tuesday, May 16, 2017

SEPUTIH SALJU Bacaan: Mazmur 51:7-13 ------------------------------------------------------------------ Bacaan setahun: 1 Tawarikh 17-20 ------------------------------------------------------------------ Waktu remaja kita sering mengisi semacam biodata di buku teman. Macam-macam yang harus diisi: nama, alamat, hobi, cita-cita. Seorang teman menulis: "Bertobat" di point hobi. Kaget saya! Ketika saya tanya alasannya, ia menjawab, "Karena setelah menyesali dosaku, aku mengulanginya, lalu menyesalinya dan kemudian mengulanginya lagi. Jelas aku ini hobi bertobat!" Apakah kita tidak demikian? Mazmur ini ditulis karena penyesalan Daud atas perilakunya yang tercela tidur dengan Betsyeba, istri Uria. Uria sendiri mati karena rekayasa jahat Daud. Nabi Natan menegurnya dengan keras. Anak hasil hubungan Daud dan Betsyeba akan mati. Daud sangat sedih dan menyesal. Ini adalah puisi dari orang yang malu dan remuk hatinya dengan keberdosaannya. Daud minta dikasihani (ay. 3), lalu ia mohon agar Allah berkenan menghapus dosanya karena rahmat-Nya yang besar itu. Daud rindu berhati bersih, bukan sekedar bersih, namun sepenuhnya bersih (ay. 4a). Ia memohon dengan penuh kesadaran diri: "Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku dan senantiasa bergumul dengan dosaku". Ini menarik! Daud mengawali dengan kesadaran dan kemudian dengan serius menggumuli dosanya. Kita sering tidak berani bergumul. Begitu tahu kita berdosa, buru-buru kita minta ampun kepada Tuhan. Alasan kita, "Tuhan kan baik". Betul. Tapi ingat bahwa kebaikan Tuhan bukan tiket bagi kita untuk hobi berdosa. Jika kita sungguh rindu bertobat, kita harus sungguh bergumul dan jangan memandang ringan penebusan Tuhan. Baru dengan demikian, seperti Daud kita dapat memohon "Basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju...." --DKL/Renungan Harian ------------------------------------------------------------------ DARI TOBAT MURAHAN, JAUHKANLAH AKU YA TUHAN. ------------------------------------------------------------------ Dikirim dari Alkitabku. Unduh di http://android.alkitabku.com

Tuesday, May 9, 2017

PERLU SIRAMAN KASIH Bacaan: Kisah Para Rasul 9:19-31 ------------------------------------------------------------------ Bacaan setahun: 2 Raja-raja 24-25 ------------------------------------------------------------------ Bisakah sebuah benih tumbuh di tanah yang gersang? Bisa. Caranya? Kita lebih dahulu membuat tanah itu basah dan subur. Kita menyirami dan memberinya pupuk. Setelah tanah itu basah, subur, dan lunak, barulah benih kita tanam sehingga benih itu akhirnya bertumbuh. Hati manusia seperti tanah, dan benih itu adalah firman Tuhan. Di dunia ini, ada orang yang hatinya lembut, ada yang keras, ada yang sangat keras. Karena itu, jangan heran kita kadang menemukan ada orang yang sulit sekali menerima berita Injil. Pada zaman para rasul, Saulus termasuk orang yang keras hatinya. Selain itu, hatinya berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Yesus. Lalu, hal apa yang membuat Saulus berubah? Selain karena perjumpaannya dengan Kristus (ay. 5), murid-murid di Damsyik dan di Yerusalem memperlakukannya dengan penuh kasih. Setibanya di Yerusalem, ada Barnabas yang menerimanya dan membawanya kepada para rasul (ay. 27). Tuhan menumbuhkan, dan umat-Nya ikut berperan memelihara. Tidak heran Saulus sangat bersyukur dan mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan (1Tim. 1:15-16). Saat ini mungkin kita menemukan orang yang keras kepala dan keras hati, tidak mau menerima kebenaran firman Tuhan, padahal hidupnya sangat kacau. Mintalah pertolongan dan penghiburan Roh Kudus setiap kali kita memberitakan firman-Nya. Tetaplah bersabar terhadap orang itu. Teruslah mengasihinya karena memang butuh waktu yang relatif tidak sebentar untuk mengubah hati yang keras menjadi lembut. --RTG/Renungan Harian ------------------------------------------------------------------ TETAPLAH MENGASIHI ORANG YANG KERAS HATI DAN KERAS KEPALA. ------------------------------------------------------------------ Dikirim dari Alkitabku. Unduh di http://android.alkitabku.com

Tuesday, March 21, 2017

SUKAR PERCAYA Bacaan: Bilangan 14:1-19 ------------------------------------------------------------------ Bacaan setahun: Hakim-Hakim 1-2 ------------------------------------------------------------------ Sadarkah kita bahwa kita sedang berada dalam kumpulan besar manusia yang semakin sukar untuk percaya? Melimpahnya informasi tidak benar dalam berbagai bentuk, baik melalui media cetak, media elektronik, atau media sosial, semakin membuat orang sukar untuk percaya. Bahkan untuk perkara-perkara yang supranatural-sepenuhnya karya Allah yang ajaib-terkadang "dituduh" sebagai rekayasa atau manipulasi sehingga gagal untuk membuat orang percaya akan kuasa-Nya. Ketika para pengintai pulang dari Tanah Kanaan, laporan positif diberikan oleh Yosua dan Kaleb. Namun, laporan mereka gagal meyakinkan sebagian besar bangsa Israel yang telah tawar hati karena laporan negatif dari sepuluh pengintai. Berbagai peristiwa ajaib yang Allah nyatakan di tengah-tengah mereka pun tidak cukup kuat untuk membuat mereka memercayai Allah, sehingga Allah pun murka. Bahkan Yosua dan Kaleb hendak dilempari dengan batu, ketika mencoba untuk meyakinkan mereka (ay. 7-11). Kondisi tawar hati seringkali menghalangi seseorang untuk percaya kepada Allah. Cara terbaik untuk mempertebal kepercayaan kepada Allah adalah ketika seseorang bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Semakin seseorang mengenal pribadi Allah, ia akan semakin mengerti bahwa Allah adalah Pribadi yang dapat dipercaya. Pemahaman yang dapat berlanjut pada kecenderungan untuk mudah percaya, sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak percaya. Apakah kita termasuk orang yang mudah atau sukar untuk percaya kepada Allah? --GHJ/Renungan Harian ------------------------------------------------------------------ SEMAKIN KITA MENGENAL ALLAH, TINGKAT KEPERCAYAAN KITA KEPADA-NYA JUGA AKAN MENINGKAT. ------------------------------------------------------------------ Dikirim dari Alkitabku. Unduh di http://android.alkitabku.com

Saturday, March 18, 2017

IMAN YANG TEGUH Bacaan: 1 Petrus 5:8-9 ------------------------------------------------------------------ Bacaan setahun: Yosua 17-19 ------------------------------------------------------------------ Petrus semasa hidupnya, memiliki pengalaman yang nyata dengan Yesus. Di suatu kesempatan Petrus pernah membuat pernyataan yang sangat meyakinkan, yaitu: "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" (Luk.22:33). Namun, pada kenyataannya Petrus justru menyangkal Yesus hingga tiga kali sebelum ayam berkokok (Luk. 22:54-62). Sebelumnya, Petrus sudah diingatkan oleh Yesus bahwa: "Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku (Yesus) telah berdoa untuk engkau (Petrus), supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu" (Luk. 22:31-32). Pengalaman Petrus itu justru memperkaya dan mendewasakan imannya, sehingga Petrus menuliskan suatu pernyataan yang luar biasa; "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama" (1 Pet. 5:8-9). Tantangan iman terbesar masa kini bukan berupa aniaya fisik, tetapi yang perlu kita waspadai adalah tawaran hidup yang nyaman dan mudah dengan menghalalkan segala cara. Marilah kita sadar dan berjaga-jaga, karena lawan kita adalah Iblis. Lawanlah dia dengan iman yang teguh di dalam Kristus! Dengan berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran Firman-Nya. Marilah kita meneguhkan iman agar kita bisa melawan tipu muslihat Iblis. --APM/Renungan Harian ------------------------------------------------------------------ IMAN YANG TEGUH MAMPU MENGHANCURKAN TEMBOK KELALIMAN. ------------------------------------------------------------------ Dikirim dari Alkitabku. Unduh di http://android.alkitabku.com